Rekap Perjuangan Drek dan Kontoru di Dragon Ball FighterZ World Tour Saga 6

Dragon Ball FighterZ memiliki kalender esportsnya sendiri yang bernama Dragon Ball FighterZ World Tour. Skema ini mengadopsi premis dari serialnya, yaitu ada tujuh bola naga, yang diadaptasikan menjadi tujuh event di seluruh dunia. Mulai dari Community Effort Orlando (CEO),VS Fighting, Ultimate Fighting Arena, Thunderstruck, South East Asia Major (SEA Major), Dragon Ball FighterZ Saga Japan, dan Couch Warrios Crossup.

Semua turnamen tersebut bersifat terbuka, artinya siapapun bebas untuk mengikuti turnamen ini. Sayang ada kendala jarak yang menyebabkan turnamen tersebut tidak memiliki banyak peserta. Oleh karena itu pihak penyelenggara mengadakan turnamen online yang disebut sebagai Dragon Radar Tournament, di mana pemenangnya boleh untuk berangkat ke salah satu Saga, termasuk ke Last Chance Qualifier di grand final.

Beruntung Indonesia mendapatkan Dragon Radar Event pada saat C3 AFA 2018 kemarin di area AFAPLAY powered by Gamestart. Di AFAPLAY inilah beberapa kontestan tangguh dari Asia Tenggara, seperti Filipina dan Singapura mencoba peruntungan mereka.

Pada Dragon Radar tersebut, Drek asal Indonesia berhasil menjadi juara walaupun harus melewati babak grand final yang penuh dengan emosi saat melawan kontestan dari Filipina yang bernama Alden.

Karena kemenangan tersebut, Drek masuk menjadi roaster terbaru untuk tim ABUGET GAMING dan memilih Saga Jepang sebagai tujuan berikutnya. Keberangkatan Drek ke Jepang ikut ditemani co-founder tim ABUGET GAMING, Rindra (Kontoru) yang ikut berpartisipasi di turnamen tersebut.

Tiba lebih awal, Drek dan Kontoru sempat bermain kasual di Red Bull Gaming Sphere yang berlokasi di Nakano, dan Esports Arena di Akihabara. Di sana mereka merasakan bermain dengan pemain papan atas seperti Kazunoko, Kaimart, Kindevu, dan lainnya.

Permainan Drek mendapat apresiasi, karena bisa jarangnya pengguna Vegito di dunia. Bisa dikatakan karakter tersebut tidak terlalu populer seperti layaknya Android 16 dan Bardock yang memiliki tools lengkap dan bisa dianggap sebagai karakter top tier.

Pada turnamen Saga, Drek berada di pool P dan Kontoru ada di pool J. Sayangnya, perjuangan mereka harus berakhir cepat karena para kontestan dari Jepang sangatlah tangguh. Kontoru harus kandas di ronde ketiga loser bracket dan Drek kandas di final lower bracket melawan Tahici.

“Menurut saya, skill Pemain Indonesia masih belum cukup kuat untuk melawan tier dua Jepang,” Kontoru mengakui. Memang lumrah pasalnya, karena standar pemain Jepang yang merupakan pemain kelas dunia dan mendominasi hampir di setiap turnamen. Namun walaupun begitu, pengalaman seperti ini lah yang dibutuhkan oleh pemain Indonesia agar mereka bisa berkembang dengan belajar dari para player-player tangguh. Semoga kedepannya mereka mempunyai peluang yang lebih besar lagi.

Comments

comments