Vega Squadron Perpanjang Daftar Organisasi Dota 2 Yang Belum Membayar Pemain

hutang-vega-squadron-featured

The International dan juga Dota Pro Circuit memang memperlihatkan betapa menjanjikannya esports Dota 2. Tapi di balik gemerlap tersebut, scene esports Dota 2 masih jauh dari sempurna dan memiliki banyak masalah.

Sejauh ini, semua sorotan dan cerita keren di Dota 2 selalu hadir dari tim-tim terbaik dan turnamen-turnamen besar. Sementara tim-tim kelas dua dan turnamen kecil kesulitan untuk mendapatkan sorotan apalagi profit. Tidak cuma itu, masih banyak organisasi dan penyelenggara turnamen yang masih berhutang uang dalam jumlah besar. Kemarin, daftar panjang hutang tersebut kembali bertambah. Kali ini tersangkanya adalah Vega Squadron.

Cerita ini pertama kali diangkat oleh Allen Cook, manajer Team Lithium yang kemudian direkrut oleh Vega Squadron tepat sebelum DreamLeague Season 10. Saat itu Vega Squadron berhasil finis di peringkat enam besar dan berhak mendapatkan hadiah sebesar US$15.000. Karena roster tersebut berhasil lolos kualifikasi turnamen sebelum direkrut, Vega Squadron mengatakan bahwa pemainnya berhak mendapatkan hadiah tersebut tanpa potongan. Tapi sebagai gantinya uang hadiah tersebut harus melalui Vega Squadron terlebih dahulu.

Allen Cook mengatakan bahwa DreamLeague sudah membayar uang hadiah yang jadi hak mereka tepat waktu. Sayangnya hingga hari ini Vega Squadron belum memberikan uang tersebut ke pemainnya.

Klaim tersebut juga dikonfirmasi oleh salah satu pemainnya yaitu Khezu. Selain uang hadiah dari DreamLeague Season 10, ia juga mengatakan Vega Squadron belum membayar uang hadiah dari berbagai turnamen online lain yang totalnya mencapai US$5.000,-.

Khezu juga menambahkan bahwa turnamen Galaxy Battles juga belum membayarkan hadiah yang jadi haknya. Dalam turnamen tersebut, Khezu bermain sebagai stand-in untuk OG dan finis di posisi empat.

Kasus ini menambah daftar panjang organisasi dan penyelenggara turnamen yang berhutang ke tim maupun pemain. Belum lama ini misalnya, Forward Gaming menutup organisasinya dalam kondisi masih berhutang ke lima pemain Dota 2 mereka sebesar US$50.000. Meskipun Forward Gaming sendiri cukup terbuka dalam menjelaskan situasi mereka, ini tetap tidak menghilangkan fakta bahwa mereka belum sanggup membayar hak pemainnya sendiri.

Jangan lupa juga kasus GESC di musim 2017-2018 lalu. Setelah dua event Minor di Indonesia dan Thailand, GESC sebagai penyelenggara belum membayar uang ke siapapun. Ini tidak hanya uang hadiah untuk pemain, tapi juga para talent yang mengisi acara tersebut.

Semua kasus di atas adalah hanyalah secuil dari banyak hutang yang melanda esports Dota 2, khususnya organisasi kelas dua dan turnamen third party skala kecil/menengah atau baru. Menutup ceritanya, Allan Cook mengajak para pemain yang punya masalah serupa untuk tidak bungkam.

Comments

comments